Kebijakan Cluster Telkomsel VS Pengusaha Server

Posted: 23 Februari 2011 in Uncategorized

Tahun 2011 merupakan tahun Cluster bagi telkomsel, disisi telkomsel mungkin menguntungkan akan tetapi disisi sebagian pengusaha server kebijakan cluster yang diterapkan telkomsel yang cenderung menjurus ke sistem hard cluster dirasa sangat kurang adil. Meskipun bila dilihat dari sudut pandang sistem distribusi yang teratur, sebenarnya suatu hal yang wajar dan positif bagi dunia usaha. Karena penyebaran penjualan produk benar-benar bisa dikontrol dari sistem distribusi resmi yang dibangun oleh para operator seluler, sehingga penyebaran peroduknya menjadi lebih jelas dan tidak menjadi bias lagi. Akan tetapi sistem yang diterapkan oleh telkomsel ini lebih mengarah ke sistem pasar monopoli, karena memberlakukan satu dealer untuk satu kota, dimana tidak ada persaingan harga dalam satu kota. Mau tidak mau pengusaha server harus ambil stock dari dealer tersebut dengan harga berapa pun juga.

Sebagian pengusaha server mungkin berpikiran untuk memberikan perlawanan terhadap kebijakan ini, salah satunya mungkin dengan cara boikot produk telkomsel. Tapi apakah itu mungkin??? alangkah baiknya pengusaha server memikirkan langkah-langkah yang taktis dan mencari solusi agar usahanya bisa tetap berjalan dengan baik. Sehingga prinsip usaha, sama-sama menguntungkan dan berkeadilan, akan tetap bisa dijalankan.

Dari beberapa informasi pemilik server disimpulkan bahwa sistem hard cluster telkomsel adalah dimana area pengiriman pulsa dan pengisian pulsa harus dilakukan di cluster yang sama, yaitu :

1. Server pulsa di kota A hanya bisa mendapatkan stok dari dealer yang memiliki area di kota A.

2. Untuk pengisian pulsa, jika pelanggan kota B (end user) sedang berada di kota A maka pelanggan tersebut bisa melakukan pengisian pulsa dari konter kota A (yang menggunakan chip kota A)

3. Jika pengisian dilakukan oleh konter kota B atau konter di kota selain kota A, chip yang digunakan selain chip kota A maka pengisian pulsa tidak bisa dilakukan.

Dari penjelasan di atas, jika disimpulkan maka para pengusaha server hanya bisa berjualan di cluster dimana server pulsa berada (RS di area cluster server pulsa). Wah…bila mengikuti cara tersebut bisa-bisa banyak pengusaha server yang mengalami penurunan omzet dan yang paling parah akan mengalami gulung tikar. Akan tetapi masih ada sedikit solusi untuk mengatasi hal tersebut, yaitu :

1. Menggunakan stock host to host dari server diluar  cluster server pulsa. Dengan konsekuensi server tergantung pada server lain (dengan harap-harap cemas agar transaksi lancar terus) dan tidak memiliki stok sendiri. Keuntungan stock host to host adalah tidak ada biaya investasi, atau biaya rutin lainya.

2. Cara yang lainnya server mau tidak mau harus menempatkan server kecil untuk sedot stok di regional masing-masing. Dan dari server pusat sudah support untuk mendistribusikan berdasarkan filter asal nomor tersebut diorder. Konsekuensi cara ini adalah dibutuhkan banyak komputer sebagai gateway untuk pengambilan stok pulsa. Kendala ini bisa diatasi dengan memprioritaskan kota-kota dimana Reseller memiliki potensi besar. Diperlukan investasi yang lumayan besar untuk pembelian perangkat, listrik dan tempat, karyawan (jika ada), perangkat komputer dan hardware lainya untuk transaksi. Dengan solusi ini server bisa mengatur sendiri stok yang dimiliki bisa menjual ke downline ataupun ke server lain yang membutuhkan.

Dengan diberlakukannya sistem hardcluster yang membatasi area distribusi pulsa ke end user dan Server, maka menimbulkan peluang bagi para pengusaha server untuk membuka cabang di cluster terpisah dan melayani H2H ke server yang membutuhkan meskipun dengan pola investasi yang sangat besar.

 

 

Komentar ditutup.